Latest Entries »

1. KOLABORASI

Kolaborasi dalam kegiatan penelitian menciptakan kesempatan berbagi atau transfer pengetahuan, keahlian dan Teknik tertentu dalam suatu ilmu, pembagian kerja dan pemanfaatan keahlian secara efektif, serta peningkatan produktivitas. Kolaborasi merupakan terjemahan dari kata”collaboration” yang artinya kerjasama. Kolaborasi mencakup semua kegiatan yang ingin dicapai dan mempunyai tujuan serta manfaat yang sama. Kolaborasi terjadi apabila lebih dari satu orang atau lembaga bekerjasama dalam suatu kegiatan penelitian dengan memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, tindakan intelektual, ataupun materi. Kolaborasi muncul akibat pandangan bahwa suatu kegiatan kadang tidak dapat dikerjakan sendiri sehingga membutuhkan orang lain.

Dalam topik ini, kolaborasi diekspresikan dalam penulisan karya ilmiah di antara ilmuan/peneliti berbagai disiplin ilmu. Menurut Subramanyam (1983), tingkat kolaborasi peneliti pada masing-masing disiplin ilmu berbeda. Frekuensi peneliti dalam melakukan kerjasama dengan peneliti lain menentukan tingkat kolaborasi. Pernyataan tersebut diperkuat Sulistiyo-Basuki (1990) bahwa tingkat kolaborasi bervariasi antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, serta dipengaruhi oleh  faktor lingkungan riset, demografi, dan disiplin ilmu itu sendiri.Tingkat kolaborasi bidang teknologi / ilmu terapan umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan bidang sosial dan humaniora. Kajian Lindsey dan Brown dalam Garfield (1979) menyebutkan bahwa kolaborasi peneliti bidang ekonomi, sosial, dan sosiologi berkisar 17-25%, sedangkan bidang gerontologi, psikiatri, psikologi, dan biokimia mencapai 48-81%.

Banyak keuntungan yang diperoleh dengan berkolaborasi, Kayz dan Martin (1997) mengatakan bahwa keuntungannya adalah terciptanya kesempatan untuk berbagi pengetahuan, keahlian dan teknik tertentu dalam sebuah ilmu. Dengan berkolaborasi akan terjadi sistem pembagian kerja dan penggunaak sumber daya yang efektif yang dimiliki oleh2 masing-masing peneliti. Adapun keuntungan kolaborasi bagi peneliti yaitu:

  1. Transfer pengetahuan dan keahlian
  2. Pertukaran ide dari berbagai ilmu yang akan menambah wawasan dan perspektif baru seseorang yang dapat memotivasi kreativitas
  3. Membuka kesempatan persahabatan intelektual
  4. Peningkatan produktivitas

Kegiatan kolaborasi dalam penelitian secara umum dapat dilihat dalam kegiatan penulisan suatu karya yang melibatkan banyak pengarang dan ko-pengarang, sehingga disebut kepengarangan kolaborasi. Menurut Gordon dalam Surtikanti (2004) asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis ko-pengarang adalah:

  1. Jumlah makalah yang dihasilkan oleh sekelompok ilmuan sebanding dengan aktivitas penelitian mereka. Semua karya kolaborasi muncul dalam satu artikel atau lebih
  2. Frekuensi relatif dari ko-pengarangan dalam kelompok sebanding dengan tingkat kolaborasi ilmiahnya.
  3. Frekuensi relatif dari produksi makalah ilmiah dengan tingkat kepengarangan ganda yang berbeda-beda, sebanding dengan frekuensi penerbitan makalah dalam majalah ilmiah oleh kelompok
  4. Didasarkan atas aturan mengenai kepangaranga, diasumsikan setiap ko-pengarang mempunyai porsi kontribusi penting pada proyek penelitian dan dinyatakan dalam dokumentasi laporan akhirnya.

Katz dan Martin (1997), memberikan batasan bahwa seorang peneliti dapat dikatakan berkolaborasi apabila orang tersebut bekerjasama dalam suatu penelitian dan ikut memberikan kontribusi berkali-kali; namanya muncul dalam proposal penelitian asli; bertanggung jawab pada satu atau lebih elemen utama penelitian, pelaksanaan eksperimen, analisis dan interpretasi data, penulisan laporan hasil penelitian,; bertanggung jawab pada tahap-tahap penting penelitian (pencetus ide, hipotesis asli, atau interpretasi teori), dan sebagai pemilik proposal proyek asli atau penyandang dana. Mereka tidak bisa dianggap kolaborator adalah orang yang memberi kontribusi relatif sedikit dalam proses penelitian dan teknisi atau asisten peneliti.

2. GRAF KOMUNIKASI

Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi ilmiah yang lazim dipakai dalam istilah penulisan karya tulis. Komunikasi ilmiah merupakan penyampaian informasi dari satu orang atau lembaga ke orang lain atau khalayak melalui media. Tujuan komunikasi untuk penyebaran dan pertukaran informasi, penyusunan fakta menjadi bentuk informasi yang memenuhi kebutuhan ilmuan/peneliti, pemberitahuan kepada sesama ilmuan dalam berbagai disiplin ilmu yang sama dan saling berkaitan (Schweppe dalam Sumaryanto,1987)

Komunikasi hasil penelitian terus dilakukan melalui berbagai pendekatan dan media agar dapat diketahui pengguna atau dikembangkan lebih lanjut oleh peneliti lain. Untuk mengkomunikasikan hasil penelitian tersebut diperlukan media seperti majalah ilmiah, karena informasi yang dimuat didalamnya lebih mutakhir  bila dibandingkan dengan media lainnya. Media komunikasi ini merupakan perwujudan upaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan mendorong peneliti menghasilkan temuan baru.

a. Teori Graf

Leighthon dan Rubinfield (2006) menyatakan bahwa dalam ilmu komputer dan matematika, teori graf adalah ilmu mengenai graf struktur matematika, suatu graf (G) dapat dinyatakan  sebagai; G=<V,E>  , lihat gambar:

Graf terdiri atas himpunan V yang berisikan titik (vertek/node) dan himpunan E yang berisi sisi (edge) pada graf tersebut. Teori graf juga digunakan dalam studi molekular pada ilmu fisika dan kimia, misalnya struktur atom tiga dimensi, dan secara luas diterapkan dalam ilmu sosiologi dan komunikasi. Dalam komunikasi, teori graf dikenal dengan jaringan komunikasi.

b. Graf Komunikasi

Sulistiyo-Basuki (1993) menggambarkan komunikasi ilmiah sebagai penyampaian informasi secara langsung maupun tidak langsung kepada pengguna. Penyampaian secara langsung disebut komunikasi informal, misalnya lisan dan telepon. Sedangkan penyampaian secara tidak langsung disebut komunikasi formal, misalnya melalui literatur primer, sekunder, dan tertier. Graf komunikasi menggambarkan suatu komunikasi formal. Graf komunikasi merupakan suatu himpunan yang terdiri atas himpunan titi dan garis yang menghubungkan kedua titik tersebut. Setiap garis pada suatu graf terletak antara 2 titik, dan setiap titik disajikan secara eksplisit. Banyaknya garis yang bertemu pada suatu titik disebut derajat atau valensi (degree), dan untuk titik valensinya nol disebut dengan titik terasing (isolated point).

Graf komunikasi dapat diukur dengan ukuran yang mirip dengan bidang termodinamika. Dalam aplikasi komunikasi dengan menggunakan graf, salah satu ukuran telah dikembangkan oleh Brillouin dan menunjukkan bahwa jumlah seluruh informasi (I) yang diukur dalam bits (binary digits) dalam sebuah pesan atau berita terdiri atas simbol-simbol N dari (s) komponen yang berlainan.

Formulasi Brillouin pada persamaan tersebut dapat digunakan untuk memberi ciri ketersambungan sebuah grafik, mengidentifikasi titik-titik penting dalam grafik, dan memberikan ukuran evaluasi dalam grafik. Dalam struktur graf komunikasi, apabila sebuah titik dipangkas maka jumlah komponen pada graf itu akan bertambah, berkurang atau tetap. Dalam hal ini, apabila sebuah titik yang dipangkas atau dihilangkan tersebut memenuhi persyaratan If-Ii>0 disebut titik sintesis, dengan ketentuan bahwa If dan Ii masing-masing adalah nilai ketidakteraturan sebelum dan sesudah titik dipangkas dari graf (Shaw 1981).

Metode perhitungan yang digunakan untuk perhitungan tingkat kolaborasi antar peneliti adalah metode Subramanyam (1983) dengan rumus:

di mana:

C = tingkat kolaborasi peneliti suatu disiplin ilmu,dengan nilai berada pada interval 0 sampai dengan 1, atau [0, 1]

Nm = total hasil penelitian dari peneliti suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara berkolaborasi

Ns = total hasil penelitian dari peneliti suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara Individual

Keterangan:

  1. Apabila nilai C = 0 maka dapat dikatakan bahwa hasilpenelitian pada bidang tersebut seluruhnya dilakukan secara individual (peneliti tunggal).
  2. Apabila nilai C lebih besar dari nol dan kurang dari setengah (0 < C < 0,5) maka dapat dikatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan secara individual lebih besar dibandingkan dengan yang dilakukan secara berkolaborasi.
  3. Apabila nilai C = 0,5 maka penelitian yang dilakukan secara individual sama banyaknya dengan yang dilakukan secara berkolaborasi.
  4. Apabila nilai C lebih besar dari 0,5 dan kurang dari 1 (0,5 < C < 1) dapat dikatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan secara individual lebih sedikit dibandingkan yang dilakukan secara berkolaborasi.
  5. Apabila nilai C = 1 maka penelitian pada bidang tersebut seluruhnya dilakukan secara berkolaborasi.

Rumus untuk menentukan titik potong atau titik sintetis diketahui dengan menggunakan formulasi Brillouin (Shaw 1981), yaitu:

Dengan ketentuan bahwa N adalah jumlah total titik pada suatu graf, Ni adalah banyaknya titik pada komponen ke- 1, dengan i = 1,2,…s, K adalah konstanta Bolzman yang besarnya 1/ln1, Ln adalah logaritma natural berbasis bilangan e (atau = 2,718282).

3. Produktivitas

Produktivitas adalah perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) (Hasibuan ,1999:126). Secara umum produktivitas didefinisikan sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumberdaya yang digunakan (input). Selanjutnya Mali (1978) yang dikutip Garpersz (2000:18) menyatakan bahwa produktivitas tidak sama dengan produksi, tetapi produksi, kualitas, hasil-hasil merupakan komponen dari usaha produktivitas. Menurut Gapersz produktivitas merupakan gabungan dari efektivitas dan efisiensi.

Dengan kata lain, produktivitas memiliki dua dimensi. Dimensi pertama adalah efektivitas yang mengarah pada pencapaian hasil kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan waktu. Dimensi kedua adalah efesiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan relasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Produktivitas ditentukan oleh faktor manusia dan lingkungan tempat bekerja. Produktivitas berkaitan erat dengan kemampuan, kemauan, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi, karir, dan bakat yang dimilikinya.

Aziz dan Komarudin (1991:2) mengatakan bahwa untuk mengetahui tingkat produktivitas peneliti, ada beberapa unsur yang dinilai oleh Tim Penilai Jabatan Peneliti yang ditetapkan oleh pemerintah dibagi 2 kelompok yaitu:a.

- Unsur Utama, yaitu pendidikan, karya tulis ilmiah, dan pemacuan teknologi

-  Unsur Penunjang, yaitu pemasyarakatan ilmu dan teknologi, keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah, pembinaan kader ilmiah, penghargaan ilmiah..

4. Studi Kasus

Beberapa studi kasus dibawah ini adalah contoh penelitian yang sudah dilakukan oleh beberapa peneliti yang memiliki keterkaitan topik bahasan kolaborasi, graf komunikasi, serta produktivitas peneliti dalam membuat karya penelitiannya, antara lain:

  1. Rufaidah, Vivit Wardah. “Kolaborasi dan Graf Komunikasi Artikel Ilmiah Peneliti Bidang Pertanian; Studi Kasus pada Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Serta Indonesian Journal of Agricultural  Science  (IJAS)”.  Kajian  ini dibatasi pada Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Serta Indonesian Journal of Agricultural  Science  (IJAS) tahun 2005-2006 yang bertujuan untuk menentukan tingkat kolaborasi dan produkstivitas peneliti, dan memenuhi persyaratan titik sintesis dalam graf komunikasi dibandingkan dengan peneliti yang jarang atau tidak berkolaborasi. Pengumpulan data dengan cara memeriksa dan mencatat nama penulis artikel pada kedua jurnal tersebut. Tingkat kolaborasi peneliti dikaji dengan metode Subramanyam kemudian digambarkan dengan graf komunikasi formal dengan menghitung jumlah informasi yang disampaikan dalam graf tersebut dan menentukan titik potong sistesis pada graf dengan “formulasi Brillouin”. Hasil perhitungan menunjukkan tingkat kolaborasi peneliti  yang menulis pada IJAS cukup tinggi yaitu mencapai 80%, sedangkan pada Jurnal Litbang Pertanian tingkat kolaborasinya hanya 52,77%. Berdasarkan formulasi Brillouin pada graf komunikasi mencapai  221,086 bits (binary digits). Peneliti yang memenuhi persyaratan titik sistesis sekaligus titik potong pada graf komunikasi formal kedua jurnal adalah pada titik nomor 30, yang berarti peneliti tersebut paling produktif.
  2. Sormin, Remi. “Kajian Korelasi Antara Kolaborasi Peneliti dan Produktivitas Peneliti Lingkup Badan Litbang Penelitian”. Dalam kajian ini kegiatan kolaborasi diekspresikan dalam penulisan karya ilmiah antara para ilmuwan/peneliti bidang pertanian. Pengukuran tingkat kolaborasi menggunakan metode bibliometrik, berupa kajian dengan mengaplikasikan metode statistik dan matematik untuk mengukur perubahan baik kuantitatif maupun kualitatif pada sekumpulan dokumen atau media lain. Kajian bertujuan mengungkapkan tingkat kolaborasi peneliti Badan Litbang Pertanian berdasarkan populasi data artikel yang dipublikasikan periode tahun 1996-2005, dan hubungan kolaborasi dengan produktivitas peneliti melalui artikel hasil penelitian yang terhimpun dalam pangkalan data AGRIS tahun 1996-2007. Metode kajian yang digunakan kuantitatif dengan pengukuran frekuensi dan intensitas variabel penelitian pertanian. Data dikelompokkan kedalam sembilan rumpun disiplin dalam ilmu pertanian. Berdasarkan metode penghitungan Subramanyam terungkap bahwa tingkat kolaborasi penulisan karya ilmiah di Badan Litbang Pertanian mencapai 71-80% dibanding penulisan secara individu. Tingkat yang paling tinggi terdapat dalam rumpun alat dan mesin pertanian. Korelasi kolaborasi dengan produktivitas sangat kuat, mencapai nilai koefisien 0,88-0,97.
  3. Sumaryanto (1987) mengkaji pola kepengarangan artikel yang dimuat pada Indeks Majalah Ilmiah Indonesia 1982-1985 yang meliputi sembilan bidang ilmu. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi pengarang pada majalah ilmiah untuk semua bidang ilmu sangat rendah (38,20%).
  4. Sulistyo-Basuki (1994), Kolaborasi penulis bidang kedokteran dan pertanian di Indonesia tahun 1952-1959 telah diteliti oleh Sulistyo-Basuki dengan menggunakan sumber Indeks Majalah Ilmiah Indonesia 1982-1988. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa tingkat kolaborasi penulis bidang kedokteran dan pertanian sangat rendah (36,80%), dan pengarang yang paling produktif bukan merupakan titik sintetis. Penelitian dilanjutkan dengan menggunakan sumber Restrospective Index of Indonesian Learned Periodicals 1952-1959, yang hasilnya menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi penulis Indonesia bidang kedokteran dan pertanian juga sangat rendah, berturut-turut 14,82% dan 8,12%. Namun, penelitian tersebut menemukan bahwa pengarang yang produktif merupakan titik sintetis dan akan menjadi pakar pada bidang masing-masing.
  5. Susanto (1995) dengan menggunakan sumber Abstrak Hasil Penelitian Lembaga Penelitian Non-Departemen (LPND) bidang riset dan teknologi 1991-1992 dan Abstrak of Science and Technology in Indonesia 1989-1992 menyimpulkan bahwa tingkat kolaborasi peneliti bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada empat LPND (BATAN, LAPAN, BPPT, dan LIPI) berbeda-beda. Tingkat kolaborasi mendekati 50%, dan pengarang yang produktif bukan merupakan titik sintetis.
  6. Prihanto (1996) dalam tesisnya mengkaji kolaborasi peneliti bidang kedirgantaraan dengan menggunakan sumber majalah, warta, prosiding, dan KKTI LAPAN tahun 1975-1994. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa tingkat kolaborasi peneliti bidang kedirgantaraan berkisar antara 3,03- 61,21% dan pengarang produktif bukan merupakan titik sintetis.
  7. Septiyantono (1996) mengkaji kolaborasi penulis artikel pada majalah Geneeskundig Tijdschrift Voor Nederlandsch Indie 1931-1939, Journal of Indonesian Medical Association 1951-1959, dan Majalah Kedokteran Indonesia 1981-1989. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ketiga majalah tersebut didominasi oleh pengarang tunggal yaitu 82,36%, dan sisanya secara berkolaborasi (17,64%). Graf komunikasi formal penulis berbentuk disconnected multigraph, dan penulis yang produktif bukan merupakan titik sintetis.
  8. Surtikanti (2004) meneliti kolaborasi interdisiplin peneliti Indonesia pada Program Riset Unggulan Terpadu I-VII LIPI tahun 1993-2001. Dalam penelitian ini selain dikaji kolaborasi antarpeneliti, juga pola multidisiplin dan interdisiplin yang terjadi pada peneliti dalam program tersebut, dan membuat visualisasinya dalam bentuk graf molekuler.

REFERENSI:

  • Rufaidah, Vivit Wardah. “Kolaborasi dan Graf Komunikasi Artikel Ilmiah Peneliti Bidang Pertanian;…….”. dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol.17 Nomor 1 th.2008
  • Sormin, Remi. “Kajian Korelasi Antara Kolaborasi Peneliti dan Produktivitas Peneliti Lingkup Badan Litbang Penelitian”. Dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol.18 Nomor 1 th.2009
  • Marsudi Ari. 2002. Hubungan Diklat, Motivasi Kerja dan Budaya Organisasi dengan Produktivitas Peneliti di BPPT (Tesis). Jakarta: Universitas Indonesia

Sumber Primer:

  • Garfield, E. 1979. Is citation analysis a legitimate evaluation tool?. Scientometrics 1(4): 359-375.
  • Harary, F. 1969. Graph Theory. Addison-Wesley, Reading, MA, 1969.
  • Katz, J.S. and B.R. Martin. 1997. What is research collaboration? Research Policy 26: 1-18.
  • Leighton, T. and R. Rubinfield. 2006. Graph Theory. Lecture Notes, 26 September 2006. Mathematics for Computer Science.
  • Prihanto, I.G. 1996. Kajian Kolaborasi Peneliti Bidang Kedirgantaraan tahun 1975-1994. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Septiyantono, T. 1996. Kolaborasi Penulis Artikel yang Dimuat pada Geneeskundig Tijdschrift Voor Nederlandsch Indie 1931-1939, Journal of Indonesian Medical Association 1951-1959, Majalah Kedokteran Indonesia 1981-1989. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Shaw, W.M., Jr. 1981. Information theory and scientific communication. Scientometrics 3(3): 235-249.
  • Sulistyo-Basuki. 1990. Kolaborasi pengarang sebuah kajian bibliometrik. Majalah Ikatan Pustakawan Indonesia 12(2-3): 12-18.
  • Sulistyo-Basuki. 1993. Kolaborasi penulis kedokteran Indonesia 1981-1988. Jurnal Perpustakaan dan Ilmu Informasi 1(1): 1-15.
  • Sulistyo-Basuki. 1994. Sebuah kajian teori graf (graph theory) terhadap kolaborasi penulis kedokteran dan pertanian Indonesia 1952-1959. Majalah Universitas Indonesia (4): 34-40.
  • Sumaryanto, Y. 1987. Suatu Kajian Bibliometrika Terhadap Pola Kepengarangan pada Artikel yang Dimuat di Majalah Ilmiah Terbitan Indonesia. Skripsi. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Subramanyam, K. 1983. Bibliometrics studies of research collaboration: A review. Journal of Information Science 6(1): 34
  • Surtikanti, R. 2004. Kajian Kolaborasi Interdisipliner Peneliti di Indonesia: Studi kasus pada program riset unggulan terpadu I-VII. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.
  • Suryadi, D. 1994. Ruang circuit suatu graph. Matematika dan Komputer 50: 26-29.
  • Susanto, B. 1995. Kolaborasi Peneliti Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia tahun 1989-1992: Studi kasus pada empat lembaga pemerintah non-departemen bidang Indonesia

Dalam matematika dan ilmu komputer, teori graf adalah cabang kajian yang mempelajari sifat-sifat graf. Secara informal, suatu graf adalah himpunan benda-benda yang disebut simpul (vertex atau node) yang terhubung oleh sisi (edge) atau busur (arc). Biasanya graf digambarkan sebagai kumpulan titik-titik (melambangkan simpul) yang dihubungkan oleh garis-garis (melambangkan sisi) atau garis berpanah (melambangkan busur). Suatu sisi dapat menghubungkan suatu simpul dengan simpul yang sama. Sisi yang demikian dinamakan gelang (loop).

Banyak sekali struktur yang bisa direpresentasikan dengan graf, dan banyak masalah yang bisa diselesaikan dengan bantuan graf. Jaringan persahabatan pada Friendster bisa direpresentasikan dengan graf: simpul-simpulnya adalah para pemakai Friendster dan ada sisi antara A dan B jika dan hanya jika A berteman (berkoinsidensi) dengan B. Perkembangan algoritma untuk menangani graf akan berdampak besar bagi ilmu komputer.

Sebuah struktur graf bisa dikembangkan dengan memberi bobot pada tiap sisi. Graf berbobot dapat digunakan untuk melambangkan banyak konsep berbeda. Sebagai contoh jika suatu graf melambangkan jaringan jalan maka bobotnya bisa berarti panjang jalan maupun batas kecepatan tertinggi pada jalan tertentu. Ekstensi lain pada graf adalah dengan membuat sisinya berarah, yang secara teknis disebut graf berarah atau digraf (directed graph). Digraf dengan sisi berbobot disebut jaringan.

Jaringan banyak digunakan pada cabang praktis teori graf yaitu analisis jaringan. Perlu dicatat bahwa pada analisis jaringan, definisi kata “jaringan” bisa berbeda, dan sering berarti graf sederhana (tanpa bobot dan arah).

[sunting] Sedikit lebih formal

Suatu graph G dapat dinyatakan sebagai G = < V,E > . Graph G terdiri atas himpunan V yang berisikan simpul pada graf tersebut dan himpunan dari E yang berisi sisi pada graf tersebut. Himpunan E dinyatakan sebagai pasangan dari simpul yang ada dalam V. Sebagai contoh definisi dari graf pada gambar di atas adalah : V = {1,2,3,4,5,6} dan E = {(1,2),(1,5),(2,3),(3,4),(4,5),(5,2),(4,6)}

 

Gambar dengan node yang sama dengan yang diatas, tapi merupakan digraf.

Pada digraf maka pasangan-pasangan ini merupakan pasangan terurut. Untuk menyatakan digraf (gambar kedua yang menggunakan tanda panah) kita dapat menggunakan himpunan edge sebagai berikut :

E = { < 1,2 > , < 1,5 > , < 2,5 > , < 3,2 > , < 4,3 > , < 5,4 > , < 4,6 > }

Dalam himpunan edge untuk digraf, urutan pasangan verteks menentukan arah dari edge tersebut.

Dalam teori graf, formalisasi ini untuk memudahkan ketika nanti harus membahas terminologi selanjutnya yang berhubungan dengan graph. Beberapa terminologi berhubungan dengan teori graf :

  • Degree atau derajat dari suatu node, jumlah edge yang dimulai atau berakhir pada node tersebut. Node 5 berderajat 3. Node 1 berderajat 2.
  • Path suatu jalur yang ada pada graph, misalnya antara 1 dan 6 ada path  b \rightarrow c \rightarrow g
  • Cycle siklus ? path yang kembali melalui titik asal 2  f \rightarrow c \rightarrow d \rightarrow e kembali ke 2.
  • Tree merupakan salah satu jenis graf yang tidak mengandung cycle. Jika edge f dan a dalam digraf diatas dihilangkan, digraf tersebut menjadi sebuah tree. Jumlah edge dalam suatu tree adalah nV – 1. Dimana nV adalah jumlah vertex
  • Graf Tak Berarah (Undirected Graph) Graf G disebut graf tak berarah (undirected graph) jika setiap sisinya tidak berarah. Dengan kata lain (vi,vj)=(vj,vi)
  • Graf Berarah (Directed Graph) Graf G disebut graf berarah (directed graph) jika setiap sisinya berarah. Titik awal dari suatu sisi disebut verteks awal (initial vertex) sedangkan titik akhir dari suatu sisi disebut verteks akhir (terminal vertex). Loop pada graf adalah sisi yang verteks awal dan verteks akhirnya sama.
Artikel ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

 

Semua orang tentu ingin menjadi seorang yang sukses di dalam bidang apa saja yang sedang digelutinya. Dari sekian banyak orang yang punya keinginan itu, hanya sedikit yang mampu mewujudkannya. Berikut adalah 10 Tips Menjadi Pengusaha Sukses yang sangat penting untuk di ketahui bagi mereka yang ingin sukses di dalam segala usaha mereka. Selamat membaca.

1. Awali Dengan Impian dan Imajinasi

Sebelum manusia bisa mendarat di bulan, tak pernah ada yang berfikir bahwa hal itu adalah sebuah kenyataan. Ide mendarat di bulan pada awalnya adalah sebuah mimpi indah yang tak akan pernah terwujud. Namun impian dan imajinasi itu akhirnya berubah menjadi kenyataan ketika seseorang telah membuktikannya dengan pendaratan manusia pertama kali ke bulan. Yang perlu diingat adalah segala sesuatu keberhasilan itu bermula dari impian dan keyakinan dengan didorong oleh kerja keras untuk mewujudkannya. Jika anda mempunyai impian untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses dan punya niat untuk mewujudkannya, maka segeralah bangun dari mimpi anda. Bekerja keraslah untuk segera merubah mimpi anda itu menjadi kenyataan. Hanya seorang pemimpi yang mampu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, jasa ataupun ide yang bisa sukses. Mereka tidak mengenal kata tidak bisa atau tidak mampu.

2. Semangat dan Kegigihan

Antusiasme, semangat dan kegigihan adalah sebuah modal utama di dalam memulai sebuah perjuangan baru untuk mencapai keberhasilan. Bila anda loyo, tidak bersemangat dan dan bermalasan, yakinlah tidak lama lagi anda akan segera mengalami kegagalan total. Carilah motivasi usaha anda itu dengan mempelajari perjuangan pengusaha-pengusaha yang sukses pendahulu anda.

3. Mempunyai Pengetahuan Dasar-dasar Bisnis

Tanpa adanya pengetahuan dasar-dasar bisnis hanya akan membuat usaha anda seperti sebuah kelinci percobaan. Kemungkinan besar hanya akan banyak mengalami kegagalan. Tidak akan ada sukses tanpa sebuah pengetahuan. Yang terbaik adalah belajar sambil bekerja. Bekerja dengan orang lain dulu sebelum anda menjadi pebisnis sangat membantu anda menyerap ilmu dan pengalaman dan siap sukses.

4. Berani Mengambil Resiko

Setiap sesuatu yang kita usahakan tentu akan ada resikonya. Semakin besar hasil yang ingin dicapai, tentu kemungkinan resiko yang akan dialami apabila mengalami kegagalan juga besar. Orang yang berani mengambil resiko adalah calon orang yang sukses. Jangan takut akan kegagalan, tapi jadikanlah kegagalan itu sebagai batu loncatan menuju kesuksesan.

5. Kerja Keras

Hanya dengan bekerja keraslah sebuah usaha akan mengalami kemajuan dan kesuksesan. Bohong apabila ada yang mengatakan dia meraih keberhasilan yang gemilang hanya dengan duduk beberapa saat di tempat kerja seperti yang sering dikatakan pengiklan di internet. Sebenarnya awal mula mereka merintis usahanya itu adalah dengan kerja keras tanpa mengenal putus asa dan banyak berkorban waktu dan tenaga.

6. Mau Belajar Dari Pengalaman Orang Lain

Pepatah mengatakan: “Pengalaman adalah guru yang terbaik.” Seorang calon pengusaha yang sukses mau mengambil pengalaman dari orang lain dan dari dirinya sendiri. Apapun pengalaman seseorang itu baik kesuksesan atau kegagalan harus dijadikan suatu pelajaran yang berharga sebagai panduan dia dalam memulai usaha atau mengembangkan usahanya.

7. Bersedia Menerima kritikan dan Nasehat Dari Orang Lain

Sebagian orang menganggap bahwa kritikan yang ditujukan kepadanya itu adalah sebagai sebuah penghambat bagi kelangsungan usahanya. Akan tetapi bagi orang yang berfikir normal akan menjadikan kritikan atau bahkan nasehat dari orang lain itu sebagai gurunya yang membimbing dia ke arah sukses. Menerima kritikan berarti menyadari bahwa kita mempunyai kekurangan. Dengan mengetahui kekurangan yang ada pada kita maka kita bisa memperbaiki kekurangan itu. Berterimakasihlah kepada orang yang mau menegur dan mengkritik kita.

8. Menjalin Kerjasama Dengan Orang Lain

Betapapun pandainya seseorang itu, apabila dia bekerja sendiri maka perjuangannya itu hanya akan sia-sia belaka. Tidak ada seorang pebisnis pun yang mampu bekerja sendiri. Kerjasama dengan rekan, teman, mitra kerja dan klien sangat penting bagi perkembangan suatu bisnis. Merekalah yang akan memberi masukan, saran dan kritik dan membantu di saat-saat sulit. Seorang pebisnis harus mampu menjalin kerjasama dan bergaul untuk menjalin relasi bisnis dengan seluas-luasnya.

9. Berani Menghadapi Kegagalan

Jangan dikira para pebisnis yang telah mapan dan maju tidak pernah mengalami kegagalan. Bahkan mereka pun suatu waktu pernah mengalaminya. Hanya saja mereka tidak pernah putus asa dan terus berusaha sampai sukses. Orang yang takut gagal adalah orang yang pengecut yang tidak berani melakukan apapun dan kerjanya hanya menghayal saja.

10. Tidak Suka Menunda

Seperti kata pepapatah: “Time is money!” Oleh karena janganlah suka menunda-nunda suatu pekerjaan. Lakukanlah saat ini, sekarang juga selagi ada kesempatan. Menunda suatu pekerjaan berarti adalah suatu kerugian yang akan membuat anda menyesal.

Apakah yang anda lakukan sebelum memulai terjun di dalam dunia marketing? Apakah anda sudah menjalankan marketing sesuai dengan teori para ahli marketing? Mungkin ada sebagian orang yang terjun ke dalam dunia marketing tanpa mengetahui dan mempersiapkan langkah-langkah yang seharusnya dilakukan agar bisnis yang dikembangkannya berjalan dan terus menanjak menuju kesuksesan yang diidam-idamkannya. Mereka hanya menjalankan usahanya karena ada kesempatan dan berdasarkan modal yang banyak. Hal seperti ini bisa berakibat tidak berkembangnya bisnis yang dilakukannya, bahkan kemungkinan terjadinya kegagalan bahkan kebangkrutan akan menimpanya kelak. Bisnis apapun yang saat ini atau akan anda lakukan, anda memerlukan persiapan dan mengkaji langkah-langkah yang telah banyak dianjurkan oleh para ahli marketing. Ya, untuk melakukan apa saja tanpa didasari ilmu yang berhubungan dengannya hanya akan membuat bisnis anda untung-untungan. Joko Susilo ST, seorang ahli marketing lokal ulung, yang sejak tahun 2001 telah merintis usahanya hingga saat ini telah menghasilkan puluhan juta setiap bulannya hanya dengan sedikit bekerja di muka komputer setiap harinya merumuskan beberapa langkah yang harus dilakukan sebelum terjun ke dunia marketing. “Proses marketing diawali dari melihat peluang pasar, melakukan riset pasar, memilih target pasar, menyusun strategi marketing, merencanakan program marketing, lalu menyusun, dan memantau hasilnya.” Masih menurut beliau lagi ada empat tahap proses atau langkah marketing, yaitu: 1. Melakukan Riset Pasar. Proses marketing dimulai dari riset pasar untuk melihat seberapa besar potensi pasar, mengukur tingkat kebutuhan pasar, peluang pasar, dan ragam segmen yang tersedia. Juga mengetahui tingkat persaingan di pasar tersebut. Sebagai contoh, sebelum meluncurkan Rumusan Rahasia Blogging, saya lihat betapa pasar blogging begitu besar. Tingkat kebutuhannya sangat tinggi. Pemilik blog masih sangat terbatas. Dan setahu saya, belum ada produk lain yang secara menyeluruh membahas secara tuntas dari A sampai Z tentang blogging. Rahasia Blogging bukan sekedar membahas tentang bagaimana membuat blog dan menghasilkan uang dari blogging. Namun lebih dari itu membuat blog sukses spektakuler. 2. Mengembangkan Strategi Marketing. Dengan memperhitungkan keunggulan anda, anda siapkan strategi positioning dan brand produk anda. 3. Menetapkan Program Marketing. Dari strategi marketing tersebut, kemudian lebih rinci ke program marketing. Apa sajakah program marketing yang anda rencanakan? Misalkan ketika baru meluncurkan produk, anda bertumpu pada SEO, PPC, dan beriklan di situs web iklan seperti iklan jitu. Pada tahap ini, anda perlu hitung total anggaran marketing, alokasi pengeluaran di tiap program marketing yang dijalankan. 4. Evaluasi dan Perbaikan. Pada tahap terakhir ini kita lihat bagaimana hasil dari program-program marketing tersebut. Sudah sesuaikah dengan target anda? Dan dari hasilnya anda bisa rumuskan kembali program marketing apa yang perlu diperbaiki, mana yang perlu diperkuat, mana yang perlu dikurangi atau mungkin perlu ditiadakan. Dan begitu seterusnya.(sumbernya dari blog joko susilo) Nah, bagaimana dengan anda? Tentunya sekarang anda sudah siap untuk terjun ke dunia marketing secara profesional berdasarkan dengan langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum terjun ke dunia marketing seperti yang telah diuraikan tersebut di atas? Mulailah secara bertahap dan penuh perhitungan dari sekarang. Jangan tunda lagi rencana anda itu.

about me

assalamu’alaikum .saya alwi, umurku baru 19 tahun,asal saya dari praya tengah, saya tinggal sekarang di prampuan. hobi saya badminton sejak sekolah Mts. pendidikan yang pernah saya tempuh, pertama taman kanak-kanak tempatnya penaban, sd di dusun belencong namanya, saya mts.di negeri model praya tepatnya di tampar-ampar dan yang terakhir di man1 praya dekat mts. keinginanku sejak kecil hanya menjadi orang yang bermanfaat terutama bagi negara dan yang paling utama untuk agama yang aku yakini serta yang lebih utama bagi diri saya sendiri. prinsip hidupku sejak mts. kelas tiga sudah mulai ada, yaitu hanya KETEKUNAN,katainilah yang menjadi acuan hidup saya, kata tekun ini mulai terbentuk dengan latarbelakang  matapelajaran yang paling ditakuti dan paling dibenci oleh teman-temanku saat itu, tentu saudara/i tau apa pelajaran itukan…….., nah tepatnya pelajaran itu adalah jurusan yang saya jpengan saaatini yaitu matimatika. masih banyak tentang saya.wasslam

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.